empire, the matrix, dan kita (lanjutan diskusi empire.pt 2)

•June 28, 2009 • Leave a Comment

Sebenarnya aku agak malas untuk melanjutkan tulisan mengenai diskusi empire di Media Parahyangan, pertama karena aku tidak begitu menguasai literature mengenai Empire, kedua adalah karena aku masih mempunyai tema-tema menarik lainnya untuk dieksplorasi. Tetapi tidak baik bila tidak menyelesaikan sesuatu, apalagi kalau sudah berjanji. Juga karena beberapa teman (Egi dan Ilham) menagihku untuk melanjutkan tulisan ini, juga penjelasan tentang beberapa konsep mengenai empire (karena belum begitu jelas), production of subjectivity, immaterial, multitude, dan lain-lain.

Nightmare…aku harus kembali membaca, maka yang kulakukan untuk merampungkan tulisan ini adalah mendownload literature dari internet mengenai konsep-konsep tersebut dan menonton kembali trilogy film The Matrix untuk membantuku memahami konsep tersebut. Tulisan ini pasti lah jauh dari harapan, dan aku berharap teman-teman tetap kritis, dan menggali lebih dalam lagi bila ingin mengetahui tentang Empire, karena tulisan ini belum tentu tepat. Selamat membaca

Aku membayangkan Empire, aku membayangkan bagaimana Empire menguasai seluruh kehidupan kita, subjektivitas kita, sehingga “rasa bebas dan setara” yang kurasakan hanyalah bentukan dari Empire, agar aku tidak melakukan exodus.

Aku “berkenalan” dengan Empire setelah temanku, bram, filsuf radikal, menulis skripsi mengambil tema tersebut. Bram yang kemana – mana selalu membawa buku Empire dan Multitude, karya Antonio Negri itu, tampak tekun mempelajari setiap konsep yang dimuntahkan Antonio Negri. Lalu beberapa minggu ke belakang, media parahyangan mengadakan diskusi mengenai empire, dengan pembicara bram. Aku mulai mengenal empire secara luas, tetapi tidak mendalam. Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan pertama mengenai diskusi tersebut.

Empire

Empire dalam pemahaman Antonio Negri adalah pengertian secara konotatif dan konseptual. Yang dimaksud dengan Empire adalah bentuk kedaulatan global baru yang terdiri dari organisme (mahluk hidup?) nasional maupun supranasional yang bersatu menjadi subjek politik dalam tatanan global. Namun pengambilan istilah di sini bukan berdasarkan pada sebuah kerajaan (raja yang berkuasa, ratu, dan lain-lain) akan tetapi lebih pada sebuah konsep, konsep yang ingin digarisbawahi di sini adalah kekaisaran tidak mempunyai batas. Ada beberapa tanda dari empire, satu timeless, spaceless/borderless. Perumpamaan dari timeless adalah pada saat zaman Holy Roman Empire, Paus diwahyukan kekuasaan oleh tuhan, sebagai wakilnya di dunia. Maka ada anggapan bahwa kekuasaannya itu abadi, karena paus mendapat kuasa langsung dari tuhan. Tidak ada waktu yang membatasi kekuasaannya. Spaceless/borderless adalah tidak ada ruang yang membatasi paus ini untuk menguasai segalanya, karena ada anggapan tuhan itu pemilik/raja dunia semesta, pemilik segalanya,sehingga segalanya milik paus karena dialah yang diwahyukan tuhan untuk mengelola kekuasaannya di dunia. Semuanya ada di dalam empire, tidak ada yang diluar, dan empire terus berlangsung ,menunda waktu, tidak ada perubahan. Lalu apa bentuk empire ini ? Empire (konsep) adalah lebih kepada penguasaan atas seluruh sendi – sendi umat manusia, dan penguasaan tersebut sifatnya eksploitatif karena hirarkis.

Production of Subjectivity

Bagaimana empire bekerja mengeksploitasi kita? Secara tidak sadar kita dibuat “its ok” bahkan mendukung kepada keadaan yang sekarang, secara tidak sadar empire membuat kita melanggengkan kekuasaannya. Pernahkah kita bertanya ada pola pikir masuk sekolah – kuliah, lalu bekerja? Darimana datangnya pola pikir bahwa kita harus memakai ponsel, sepatu converse, dan lain –lain ? Ada suatu proses yang dinamakan production of subjectivity yang dilakukan oleh empire, dan ini membuat diri kita tidak ditentukan lagi oleh diri kita, karena secara tidak sadar kita ditentukan oleh empire. Apa itu production of subjectivity ? untuk itu kita harus melompat dan menilik ke belakang dahulu.

Pra empire, pola produksi yang dipakai adalah fordisme. Fordisme memiliki beberapa ciri, antara lain : melibatkan produksi produk secara homogen dan massal,digunakannya teknologi yang tidak fleksibel, adanya rutinitas kerja standar, homogenisasi kerja, pertumbuhan pasar bagi barang produksi massal yang menimbulkan homogenisasi pola konsumsi. Karakteristik utama dari pekerja pada era fordism adalah waktu kerja yang jelas tiap harinya, tempat bekerja yang tetap, jenis pekerjaan atau tugas yang diberikan sifatnya monoton, serta pekerjaan yang diampunya cenderung stabil dan berjangka waktu panjang.Jadi sifatnya memproduksi material / berbentuk sesuatu yang nyata. Maka kelas pekerja pada masa tersebut disebut material labour.

Bagaimana dengan kondisi kontemporer (masa empire)? Kita dihadapkan kepada pola produksi yang ditandai dua hal, pasca fordisme dan imaterial. Pasca fordisme tentunya berlawanan dengan fordisme, Pada era pasca fordism terdapat tiga jenis karakteristik utama yaitu: fleksibilitas, karena sekarang pekerja tidak hanya diharuskan melakukan satu jenis pekerjaan saja, namun diharapkan bisa melakukan berbagaimacam pekerjaan yang berbeda. Mobile, karena biasanya pekerja tidak hanya bekerja di satu waktu dan tempat yang sama dan precarious karena tidak ada kontrak pekerjaan yang stabil, atau long term employment. Yang dihasilkan oleh pola produksi pasca fordisme ini adalah produk-produk immaterial seperti ilmu pengetahuan, informasi, komunikasi, hubungan sosial, atau afeksi rasa. Dan saat ini munculah “kelas pekerja” baru yang disebut Imaterial labor. Imaterial labor tidak hanya memproduksi barang atau jasa material namun juga hubungan maupun kehidupan sosial itu sendiri. Jadi ciri utama dari immaterial labor adalah: memproduksi komunikasi, hubungan sosial, dan kerja sama.

Dapat dilihat, di era produksi kontemporer yang bercirikan immaterial yang berlandaskan pada komunikasi dan kerjasama dikatakan sebagai production of subjectivity. Hal tersebut telah menjadi bagian dari konstruksi kehidupan sosial kita semua. Dengan kata lain, subjektifitas diproduksi melalui kerjasama dan komunikasi dan selanjutnya akan memproduksi subjektifitas yang lain, melalui kerjasama dan komunikasi lagi memproduksi subjektifitas baru dan seterusnya. Masalahnya adalah yang imaterial ini sudah menghegemoni dalam hidup kita sehari – hari. Untuk memudahkan membayangkannya, contohnya ponsel, pada saat zaman dulu kakek-nenek kita tidak akan ada masalah bila tidak membawa ponsel. Tetapi saat ini/zaman ini, bila kita tidak membawa ponsel akan sangat sulit. Lalu rasanya tidak masalah bila kita kuliah tidak memakai sepatu converse, tetapi bila kita tidak memakainya seperti ada yang “kurang” atau kurang bergengsi bila anak kuliahan tidak memakai sepatu tersebut. Ada apa dengan diri kita bila kita tidak memakai benda-benda tersebut? Ada yang kurang bila kita tidak memakai benda-benda tersebut? Itulah sesuatu yang imaterial yang begitu menguasai sendi – sendi kehidupan kita sehari – hari.

Kita bisa mengambil analogi dari film the matrix bila ingin lebih jauh memahami tentang cara kerja empire ini, Morpheus menerangkan tentang The Matrix kepada Neo pada saat pertama kali

the matrix is everywhere, all around of us, even now, in this very room. You can see it when you look out the window or you turn on your television. Ypu can feel it when you go to work, when you go to church, when you pay your taxes. It is the world that have been pulled over your eyes to blind you from the truth. you are a slave, neo. Like everyone else, you were born into bondage, born into a prison that you cannot taste or touch. Prison for your mind. Unfortunetly no one can be told, what the matrix is. You have to see it by yourself.. What is the matrix? Control, the matrix is computergenerated dream world built to keep us under control in order to change a human being into this (Morpheus menunjukkan sebuah baterai kepada neo).

Dalam The Matrix, subjektivitas kita diruntuhkan oleh peran bahasa dan sistem tanda dan makna (semua itu diproduksi oleh the matrix). Seperti yang diungkapkan oleh Louis Althusser mengenai sistem konstruksi dibentuknya diri oleh bangunan ideologi sebagai sistem makna. Pemberi dan penentu makna yang mengajari kita adalah kelas penguasa yang memiliki kekuasaan hegemonik (mempengaruhi) tafsir makna dan tafsir hubungan antar anggota. Tafsir tersebut disemburkan melalui banyak hal, salah satunya media massa, saluran penerangan, sehingga menjadi kesadaran orang banyak. Kesadaran tersebut adalah kesadarang palsu hasil dari pemilik tafsir dan hegemoni arti. Kesadaran ini dilanggengkan terus menerus. Semua itulah yang membentuk kita hari ini, dalam dunia penghayatan kita saat ini.

Lalu apa yang bisa kita lakukan ketika kita hidup dalam the matrix (empire), apakah kita tidak mungkin untuk keluar dari sana ?

Dengan pola produksi immaterial maka “alat produksi” yang digunakan adalah komunikasi dan kerjasama, outputnya adalah berupa hubungan sosial atau kehidupan sosial itu sendiri. Kehidupan sosial hasil produksi sudah terserap dalam logika modal. hubungan sosial tersebut menghasilkan subjektivitas, lalu menghasilkan hubungan sosial yang lain, lalu menghasilkan subjektifitas yang baru dan seterusnya (subjektifitas – hubungan social –subjektivitas – hubungan social; ibarat kehidupan dalam the matrix). harapan untuk bisa keluar dari pola eksploitatif ini adalah dengan melakukan exodus. Alasan kenapa harus melakuakan exodus adalah karena pola produksi ada saat ini sangatlah eksploitatif. Dan karena ada tujuan untuk menghasilkan profit sebanyak-banyaknya dari production of subjectivity, maka sebisa mungkin subjektifitas yang dibentuk oleh Empire sesuai dengan keinginannya. Juga karena empire yang bersifat hirarkis sehingga dapat dijamin tidak ada kesetaraan di dalam empire. Maka setelah tidak ada kebebasan (karena subjektivitas kita telah dibentuk, maka tindakan pun telah terbentuk; ketiadaan free-will) dan kesetaraan (karena sifat empire yang hirarkis : lihat part 1 dari diskusi empire), maka kebebasan dan kesetaraan menjadi suatu hal yang menjadi alasan untuk melakukan exodus. Ibarat. Seperti yang dilakukan oleh Neo ketika dia memilih menelan pil merah.

Empire hadir di kehidupan kita sehari-hari, empire dengan cara bekerja yang begitu canggih dan rumit, menguasai kita. Menguasai otonomi kita sebagai manusia, Bila menilik film The Matrix, seperti yang dikatakan oleh Morpheus kepada Neo pada saat menjelaskan tentang manusia

the human body generated more bioelectricity then a 120 volt battery, and over 25.000 btu of body heat. Combined of form of fusion, the machines had found the all of energy they would ever need. There are fields, neo. Endless field.where human beings are no longer born, we are grown

Masih mungkinkah kita untuk keluar dari empire dengan melakukan exodus ?

Penutup

Agen smith tampak sudah yakin dengan kemenangannya, dengan kemanangannya maka zion akan runtuh, hancur, dan umat manusia akan lenyap. Di hadapannya, neo mencoba untuk berdiri, perlahan, tubuhnya sudah lemah, sakit, dan kekalahan di depan mata.

“why Mr Anderson ? Why, why, why ?” kata agen smiths

Keheranan agen smith tidak dibuat – buat, mungkin dia sudah terlalu lelah untuk berpikir mencoba memahami apa yang dilakukan oleh neo. Sedangkan neo, hanya diam saja, masih dalam taraf menstabilakan dirinya setelah menjadi bulan – bulanan agen smith dalam pertarungan akhir tersebut.

“why do you do it?” agen smith bertanya kembali, sambil menggeleng – geleng kesal, dan tidak habis pikir, dia yakin akan menang.

“Why get up? Why keep fighting ? do you believe fighting for something ? for more than your survival? Can you tell me what it is? Do you even know? Is it freedom or truth? Perhaps peace or could be for love? Illusion, mr Anderson. Vagaries of perception. Temporary construct of a feeble human intellect trying desperately to justify an existence that is without meaning of purpose! And all of them as artificial as the matrix itself…although only a human mind could invent something as inspidid as love. You must be able to see it mr Anderson. You must know it by now. You can’t win, its pointless to keep fighting. Why, mr Anderson, why ? why do you persist?”

Neo, akhirnya berhasil berdiri, langkahnya masih terhuyung – huyung, mungkin pada saat berusaha berdiri, dia mengingat semuanya. Dia ingat, dia menelan pil merah sehingga dia keluar dari the matrix, dia ingat ketika bertemu dengan oracle untuk memahami “bagian”-nya. Dia ingat trinity, cintanya, yang membawanya ke akhir, juga telah menjemput akhirnya. Yah..dia ingat semuanya, dan kini dia berdiri sendirian di akhir, menghadapi agen smith dalam pertarungan terakhirnya, yang beberapa saat yang lalu memberondong dengan pertanyaan – pertanyaan selain pukulannya. Mengapa ? dalam sakitnya, neo mempunyai jawaban, jawaban yang mungkin baru diketahuinya, di akhir.

“Because I choose to”

pyramid of global institution

pyramid of global institution

My only weakness is a list of crime

•November 6, 2009 • Leave a Comment

My only weakness is a list of crime
My only weakness is….nevermind…nevermind
Shoplifters of the world
Unite and take over…
[the smiths – shoplifters of the world unite]

KTP bisa menjadi celah kecil negara untuk mengintip gerak – gerik rakyatnya, terutama mereka yang dianggap berbahaya. Negara merasa perlu melakukan ‘pembedaan’ terhadap sebagian kecil kelompok masyarakat yang dianggap ‘berbeda’ dari masyarakat mayoritas. Contohnya pemberlakuan KTP strip sebagai penanda bagi penganut aliran kepercayaan. Negara menggolongkan mereka sebagai pemeluk “agama lain-lain” . sebagai penganut “agama lain-lain”, banyak dari mereka yang harus berurusan dengan ranjau-ranjau birokrasi yang cenderung diskriminatif. Bukan hanya diberi KTP strip, adakalanya mereka tidak diperbolehkan memiliki KTP. Bisa dibanyangkan hak – hak sipil apa saja yang hilang bila tidak diakui sebagai warga negara karena tidak memiliki KTP.

***

Negara adalah suatu entitas atau organisasi kekuasaan yang berada dalam masyarakat yang dikendalikan melalui sistem kenegaraan atau kekuasaan. Diandaikan suatu negara akan menuju pada sistem kenegaraan atau kekuasaan. Diandaikan suatu negara akan menuju pada sistem kenegaraan berdasarkan trias politica yang lebih dikenal juga sebagai demokrasi, yaitu kekuasaan rakyat. Negara bukan hanya demi memenuhi kepentingan dan kebutuhan segelintir orang, melainkan untuk seluruh rakyatnya. Lebih terarah lagi bahwa negara itu mempunyai kewajiban dalam urusannya dengan hak – hak dan kebebasan dasar manusia, khususnya dengan kebebasan beragam dan berkeyakinan. Negara tak Cuma mempunyai kekuasaan untuk menjalankan tugas dan fungsinya dalam masyarakat, tapi yang lebih penting adalah mengoperasikan kewajibannya terkait hak – hak dan kebebasan dasar manusia. Negara Republik Indonesia [RI] mempunyai tiga kewajiban umum yang seharusnya dijalankan dalam relasinya dengan hak – hak manusia.
1. kewajiban untuk menghormati hak – hak manusia
2. kewajiban untuk melindungi hak – hak manusia
3. kewajiban untuk melindungi hak – hak manusia

berkaitan dengan hak memeluk agama, RI bukanlah negara berdasarkan pada agama tertentu. UUD 1945 – selaku hukum tertinggi negara RI – justru menghormati kebebasan setiap orang memeluk agama dan menjalankan ibadah sesuai kepercayaannya. UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) juga menghormati dan melindungi kebebasan beragama dan berberkeyakinan. Bahkan RI telah meratifikasi Kovenan Internasional tentang hak – hak sipil dan politik menjadi UU No. 12/2005

***

Bila dikaitkan dengan permasalahan yang terjadi, RI telah melakukan diskriminasi secara identitas terhadap para pemeluk ‘agama lain-lain’ tersebut. Diskriminasi ini semakin meluas menjadi pembatasan hak – hak sipil bagi mereka, seperti melakukan partisipasi politik (karena Pemilu memerlukan KTP), berperan aktif dalam dunia politik, dan bekerja di lapangan birokrasi. Lebih luas lagi, RI secara tidak langsung melegalkan perbuatan diskriminasi yang dilakukan oleh masyarakat sipil mayoritas kepada mereka yang menganut ‘agama lain – lain’ tersebut.

Solusi yang dapat diberikan adalah meskipun dilakukan pembedaan dari segi KTP, seharusnya niat itu bukan menjadi alat pembatasan hak – hak sipil. Melainkan sebagai perlindungan terhadap agama – agama lokal tersebut sebagai upaya pelestarian budaya Indonesia ini yang katanya beragam. Tentunya hal ini juga menjaga mereka dari diskriminasi masyarakat mayoritas. Hal diatas, sebagai perwujudan pluralisme di kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai garda terdepan menuju masyarakat yang demokratis.

Another Indonesia is Possible

•November 4, 2009 • Leave a Comment

Pengalaman Partikularku

Di sebuah kafe di Bandung, waria itu menyanyi dengan riang, mendaur ulang lagu Mulan Jamila, “Aku bukan Mulan Jamila, tetapi Mulan Jamaludin” begitu bunyi lirik yang didaur ulang. Dia tampak menikmatinya. Aku dan kedua temanku yang sedang makan disitu, memperhatikan dengan takjub, lucu, senang, haru, simpati, bercampur aduk. Salah satu temanku tertawa lebar dan bertepuk tangan ketika waria tersebut selesai bernyanyi, merogoh kantung baju, dan menyerahkan dua lembar uang seribu rupiah.

Peristiwa itu mengingatkanku pada sebuah kejadian yang menggetarkan hatiku. Malam hari, aku sedang berjalan sendirian di daerah Braga, mencari inspirasi buat topik skripsiku. Lalu di depan sebuah kafe diskotik, aku melihat seorang waria yang ingin masuk ke dalam kafe atau diskotik tersebut. Seorang penjaga menghalanginya, sepertinya dia bertanya kepada waria tersebut tentang KTP-nya. Waria tersebut memperlihatkan KTP-nya kepada penjaga itu. Bertanya KTP kepada waria itu rupa-rupanya merupakan modus bagi penjaga itu untuk menertawakan waria. “Di sini tertulis laki-laki, kenapa wujudnya begini. Hahahahaha…..” begitulah kira – kira yang dikatakan oleh penjaga itu. Aku memperhatikan waria itu, dia hanya diam saja, entah perasaan apa yang berkecamuk didalamnya. Aku lalu pergi dari situ, air mataku hampir keluar, lalu duduk di sebuat minimarker 24 jam, membeli minuman kalengan beralkohol dan menenangkan diri. Hatiku berkata “Ini bukan Indonesiaku, Indonesia ini tidak lahir dari kata – kata dan perbuatanku, aku mempunyai impian tentang indonesia yang lain.”

Hal yang diungkapkan diatas hanyalah gambaran kecil dari realitas Indonesia kita saat ini. Ada sebuah kisah lain yang kualami waktu aku duduk di SMA. Ada seorang supir angkot Caheum – Ledeng yang kebetulan asli Batak, dia menabrak anak kecil hingga tewas di daerah Balubur. Enggan bertanggung jawab, si supir kabur melarikan diri. Beberapa Jam kemudian, warga Balubur yang telah tersulut kemarahan melakukan razia terhadap supir angkot Batak, siapapun itu supir angkotnya asal dia batak, akan digebukin. Lalu juga seperti stigmatisasi yang tidak disadari terhadap suku lain, seorang temanku ketika kami nongkrong di Mall memandang aneh kepada orang Ambon yang lewat di hadapannya. “Kenapa kamu memandang seperti itu?” kataku, “Nggak apa – apa, aneh aja ngeliatnya” katanya.
Bercermin dari ini, kita mau tidak mau harus mengakui bahwa masyarakat kita rupanya mempunyai kecurigaan terhadap yang lain yang cukup kental. Bahkan di kampus yang merupakan komunitas akademik, tradisi kelompok – kelompokan berdasarkan suku, ras, daerah masih terjadi, setidaknya di kampusku. Kamu orang sunda asli nongkrong disini, sedangkan kamu orang tionghoa nongkrong disana, heh kamu orang jakarta nongkrong di halte, kamu orang batak nongkrong di warung sana. Seperti yang dikatakan Rocky Gerung dalam sebuah diskusi mengatakan antropologi bangsa ini memang kuat bertumpu pada antropologi keyakinan, dan mungkin perlu ditambahkan juga antropologi kesukuan. Bila antropologi keyakinan adalah kecenderungan memandang kehidupan dari kacamata keyakinan absolut, antropologi kesukuan adalah memandang kehidupan dari kacamata nilai – nilai kesukuan.

Indonesia Impianku dan Indonesia Saat ini

Lalu bagaimana rupa Indonesia impianku? Sejujurnya aku bingung merumuskannya sampai aku membaca transkrip pidato radio Soetan Sjahrir pada Hari Ulang Tahun pertama Republik Indonesia . Kebangsaan kita hanya jembatan untuk mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna, bukan untuk memuaskan diri sendiri kita, sekali – kali bukan untuk merusakkan pergaulan kemanusiaan…kebangsaan kita hanya satu roman dari pembaktian kita kepada kemanusiaan…”. Pidato tersebut menggugahku, Indonesia sebagai proyek bersama untuk mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna. Maka aku mulai merumuskan Indonesiaku, Indonesia yang menjunjung tinggi derajat kemanusian, Indonesia yang demokratis dan berkeadilan, Indonesia yang lahir dari kata-kata dan perbuatanku, juga kata – kata dan perbuatan seluruh warga negara Indonesia.

Menilik dari pidato Soetan Sjahrir, Indonesia saat ini bukanlah Indonesia yang diharapkan, Indonesia sebagai proyek kita bersama rupa – rupanya tidak pernah kering dari konflik dan pertikaian berbasis identitas. Kita telah sama – sama menyaksikan dengan mata berkaca – kaca ketidakrasionalan konflik Poso, konflik Ambon, Konflik Dayak dan Madura, konflik Ahmadiyah, Bom Bali, dan yang tersegar adalah Bom Ritz Charlton beberapa bulan ke belakang. Apa yang kita saksikan itu berkembang dari keterpisahan identitas yang kukuh. Jangan dilupakan peristiwa penggerebakan warga malaysia akibat “direbutnya” produk budaya kita, juga salah satu perwujudan identitas nasionalisme yang mendorong ke arah tindakan chauvinisme. Beragam peristiwa berbasiskan identitas di tanah air selepas rezim otoriter orde baru tidak hanya mencerminkan kegagalan negara, tapi kegagalan masyarakat dalam membangun kehidupan sosial yang multikultur.
Yang membuat hati kita tersayat – sayat, situasi penuh konflik tersebut berkembang pada saat demokrasi tumbuh di Indonesia. Ruang partisipasi politik yang kini semakin luas justru lebih terasa dihuni pekerja politik identitas, yaitu mereka yang berjuang untuk suatu cita – cita politik absolut, terutama karena mendasarkan diri pada keyakinan absolut politik keagamaan yang terpengaruh juga dari perdebatan masa lalu mengenai dasar negara, lihatlah beberapa daerah telah menerapkan perda syariah yang mengacam kebhinekaan kita. Frustasi sosial ekonomi masyarakat, kasus korupsi yang tak kunjung usai, politikus pemburu rente, adalah pupuk yang manjur untuk mewabahnya gerakan yang berbasiskan identitas. Identitas tampaknya begitu penting dan nyaman sebagai tempat persembunyian sementara waktu. Juga tampaknya demokrasi kita terlampau liberal sehingga terlampau memanfaatkan pasar, kebebasan diartikan sebagai kebebasan modal untuk berinvestasi, bukan sebagai kesetaraan kesempatan, ini mengakibatkan demokrasi tidak memiliki efek terhadap keadilan sosial, sehingga kebebasan sebagai buah demokratisasi malah melahirkan komunitas – komunitas yang berbasiskan identitas dan ekslusif sebagai respon dari kesenjangan sosial. Otonomi daerah sebagai anak kandung demokratisasi saat ini malah berjalan sebagai proses distribusi korupsi dan mengakibatkan konflik di tingkat lokal. Lihat saja penggunaan – penggunan atribut kultural dan keagamaan oleh pelaku politik sebagai basis aktivitas politik sering kita jumpai pada pemilihan – pemilihan kepala daerah. Lalu setelah terpilih, maka perda syariah diberlakukan di daerah tersebut .
Polemik identitas ini juga mendapat pengaruh historis dari perkembangan sejenis di dunia internasional. Globalisasi tidak dipandang sebagai sarana percaturan ide-ide global, tetapi dimusuhi sebagai penghalang keyakinan terhadap nilai – nilai absolut. Globalisasi membuat homogenitas pecah berantakan. Pelbagai gagasan, klaim, keyakinan, berenang-renang dalam jagat kepentingan global. Heterogenitas justru mengencangkan ikatan-ikatan etnis maupun keagamaan. Mereka berprinsip bahwa kebenaran kelompok harus dijaga dari infiltrasi nilai-nilai asing. Sebuah fobia komunal yang melahirkan fundamentalisme Fundamentalisme pasar berhadapan dengan fundamentalisme nilai dalam pertarungan tentang kebenaran. Globalisasi dipandang sebagai penghancuran peradaban, sementara agama, kebudayaan lokal, maupun nasionalisme sempit sebagai solusinya. Mengikuti kritik Armatya Sen terhadap teori Samuel Hutington yang berasumsi tentang adanya benturan antar peradaban, yaitu peradaban barat dan islam. Pandangan Hutington ini dibangun dari klasifikasi tunggal dan keterpisahan identitas antara Barat dan Islam . Hal ini yang dikritik sebagai mengecilkan makna karena mengabaikan dua hal yaitu tingkat keberagaman dalam klasifikasi peradaban itu, dan kedua juga jangkauan serta pengaruh interaksi baik secara intelektual maupun material yang melintas batas – batas regional dari apa yang disebut peradaban .

Demokrasi dan Pluralisme

Lalu apakah bangsa ini telah memilih jalan demokrasi itu hal yang salah ? Dengan Hadirnya demokrasi di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara kita, justru semakin kencangnya arus politik identitas yang mulai menguburkan keberagaman secara perlahan-lahan. Ada yang salah dengan pilihan kita terhadap demokrasi ? Aku menjawab dengan lantang dan keras “TIDAK”.
Demokrasi dalam demokrasi sebagai budaya politik yang beralas pluralisme adalah jawaban bagi persoalan ini. Demokrasi sebagai budaya politik lebih dari sekadar mekanisme. Ia adalah sebuah bangunan etika sosial. Etika sosial yang menjaga agar kebebasan dan kesetaraan tiap warga negara tidak dikorbankan atas nama sebuah doktrin absolut. Diskursus yang tidak mementingkan hasil melainkan prosedur. Prosedur yang fair guna mencegah dominasi dan pengingkaran akan kebebasan dan kesetaraan. Prosedur yang dapat diberikan oleh demokrasi adalah konstitusi. Inilah kontrak sosial sesungguhnya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, bahwa pijakan bersama warga negara adalah ayat – ayat konstitusi, bukan berpijak kepada agama, suku, ras, dan sentimen kedaerahan.

Pluralisme sebagai salah satu elemen penting demokrasi harus mempengaruhi kehidupan politik dan kehidupan bermasyarakat. Perbedaan merupakan suatu keniscayaan. Pluralisme merupakan upaya menerima perbedaan – perbedaan itu secara berkesinambungan menjadi bagian dari masyrakat secara keseluruhan. Pluralisme dalam demokrasi berarti semua yang absolut hanya boleh dipraktikan di wilayah privat. Artinya sejauh identitas hanya bermaksud mengartikulasi eksistensi, maka sistem demokrasi harus melindunginya. Namun begitu ia berusaha menghapuskan keberagaman atau menyeragamkan, demokrasi harus menolaknya karena ia mengancam elemen penting demokrasi itu sendiri, yaitu pluralisme. Dengan hadirnya demokrasi maka hadir pula pluralisme dalam kehidupan bermasyarakat.

Mengembalikan Demokrasi Ke Akarnya : Sebuah Upaya Memperbesar Nilai

Bila kita melihat kembali pada “penemuan” terbesar pada abad ke-18 di Eropa dan Amerika Serikat: Demokrasi. Referensi yang digunakan di sini bukan lagi demokrasi khas Polis Athena. Saya lebih memilih untuk kembali ke abad-18 tersebut, selain karena ditandai dengan peristiwa-peristiwa monumental: Revolusi di Prancis dan Kemerdekaan serta pembentukan Konstitusi di Amerika. Setidaknya ada satu temuan besar sehubungan dengan demokrasi itu adalah karakter universal dari demokrasi: untuk semua orang, dari semua orang, oleh semua orang.
Untuk bisa memaknai yang “semua orang” di sini, maka pemahaman kita haruslah berawal dari tiap-tiap manusia sebagai subjek yang tunggal. Yang dimaksud subjek yang tunggal di sini adalah ia harus bisa dibedakan dari dirinya sendiri dan dari “yang lain”, sifatnya setiap subjek adalah pertikular (khusus). Di lain sisi, dalam interaksi sosial, manusia-manusia yang partikular ini pada akhirnya akan menemukan sesuatu yang common pada yang banyak. Yang common di sini selain hasil kreasi dari interaksi tersebut sekaligus melekat dalam kehidupan manusia, oleh karena itu sifatnya universal. Dalam argumentasi yang diajukan oleh Ernesto Laclau, sesuatu yang universal, tak berarti yang terjadi adalah sebuah dominasi atas yang pertikular. Justru yang uviversal akan lebih luas apabila dalam artikulasinya, suara yang partikular diterjemahkan sebagai yang universal. Melihat argumen diatas maka ada yang universal dari setiap manusia, meskipun manusia adalah sebuah subjek yang tidak bisa diseragamkan. Yang Universal itu ada nilai – nilai inti yang memproduksi kehidupan masyarakat, seperti kebebasan dan kesetaraan.
Untuk itu, proyek mengembalikan demokrasi kepada intinya atau akarnya adalah sesuatu yang niscaya. Jadi jelaslah di sini bahwa yang lebih inti adalah perlu disadarkan dan diberikannya hak-hak dasar seperti kebebasan dan kesetaraan untuk menjamin akan adanya kehidupan lebih baik di Indonesia ini. Jadi bila kita melihat beberapa tahun ke belakang ahmadiyah digebukin karena menganut kepercayaan yang diyakininya, kita tidak perlu alasan untuk mengatakan “hentikan perbuatan itu”, alasan membantu sesama adalah hal yang baik, tapi yang paling penting adalah menyadari ada nilai dalam mereka dan juga kita yang dirampas, yaitu kebebasan dan kesetaraan. Dalam hal ahmadiyah yang dirampas adalah nilai kebebasan untuk menafsirkan sesuatu menurut kesadarannya. Pengalaman kaum ahmadiyah adalah sesuatu yang sifatnya partikular (khusus dialami oleh ahmadiyah saja), sedangkan kebebasan untuk menafsirkan adalah sesuatu yang sifatnya universal (dialami dan melekat di diri kita semua)
Bagaimana cara menarik demokrasi hingga ke akarnya atau bahasanya meradikalkan demokrasi? Aktor pentingnya adalah warga negara, ide kewarganegaraan disini adalah tema yang diajukan sebagai identitas politik bersama untuk mengatur cara hidup bersama dalam sebuah masyarakat majemuk. Warga negara dalam pandangan umum adalah anggota dari komunitas politik yang dilengkapi dengan seperangkat hak dan kewajiban. Kewarganegaraan juga merepresentasikan hubungan antara individu dengan negara, dimana keduanya (individu dan negara) terikat bersama dengan kesepakatan hak dan kewajiban.
Jurgen Habermas memahami warga negara sebagai upaya untuk menjembatani indentitas individualism dan komunalisme. Habermas bertolak dari wawasan individualisme barat dan pemikiran komunitarian yang sangat memikirkan nilai – nilai kolektif. Dalam liberalism, individu dibayangkan sebagai atom – atom dengan identitas universal yang lepas dari identitas cultural mereka. Tolakan liberalism disini dapat dilihat sebagai individu mengatasi kelompok. Sedangkan dalam pandangan komunalisme, individu dimengerti lebih sebagai anggota suatu kelompok daripada individu itu sendiri. Pandangan ini mengakibatkan individu terdikte oleh kelompok. Habermas memandang warga negara adalah suatu indentitas baru untuk menjembatani antara individu dan kelompok. Warga negara merupakan identitas yang dibentuk dalam praksis diskursif bersama dalam keadaan yang setara , karena menurut Habermas dalam praksis komunikasi yang menghasilkan consensus (identitas kewargaan), hubungan antar subjek baik kelompok maupun individu adalah setara.
Robertus Robet (2006) mengemukakan bahwa perlunya menegaskan kembali kewarganegaraan yang mengacu pada nilai kebebasan dan kesetaraan, robet menyebutnya sebagai kewargaan demokratik (demokratic citizenship). Di dalam demokrasi, sumber dari segala otoritas politik – basis legitimasi adalah warga. Dengan kata lain demokrasi menjunjung tinggi konsep bahwa seorang warga adalah seorang anggota penuh dan setara dari tubuh kepolitikan negara. Dalam hal ini juga, warga negara merupakan suatu identitas baru mengatasi identitas cultural, seperti yang diungkapkan oleh Habermas. Dalam posisi ini, maka aspek pokok dari kewarganegaraan demokratis dirumuskan sebagai
1. Sudut pandang warga sebagai anggota komunitas dengan privilege hokum yakni sebagai penyandang hak partisipasi
2. Sebuah identitas bersama untuk mengatasi kemajemukan agama, ras, gender, etnis, serta identitas cultural lainnya
3. Kewarganegaraan menjadi diskurkus yang terbuka karena mengabdi kepada kepentingan demokrasi
4. Kewarganegaraan juga merupakan tugas atau tanggung jawab warga yakni aktifitas dan partisipasi maksimum untuk menjaga dan menentukan watak negara demokratis.
Setelah penjabaran yang panjang ini, perlu sebuah ikhtiar untuk menjalankannya. Upaya meradikalkan demokrasi adalah dengan mempromosikan kembali kewarganegaraan demokratik, hanya dengan itu nilai – nilai kebebasan dan kesetaraan dapat diinjeksikan ke dalam masyarakat Indonesia. Harapan akan proyek hidup bersama dalam keberagaman dapat terwujud di Indonesia

pustaka
Another Indonesia is Possible diambil dari slogan yang dikemukakan para aktivis di peristiwa Battle of Seattle 1999 “another world is possible
Mangunwijaya, YB. (1988). Manusia, Guru, Negarawan Sutan Sjahrir dan Relevansinya Kini dan di Hari Mendatang,
Terjadang ada politisi sekuler di daerah yang menerapkan perda syariah sebagai cara untuk membina nama baik di kalangan konstituen.Finkel, Michael. 2009. National Geographic Indonesia : Moderat dan radikal dalam satu tempat.
Sen, Armatya. 2006. Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas. Marjin Kiri. Jakarta
Prof Gumilar Rusliwa Somantri. 2006. Membaca Sen, Membaca Realitas Kita
Gahral Adian, Donny. Globalisasi, Demokrasi, dan Nalar Non Tribalisme http://www.kompas.com/kompas-cetak/0304/01/opini/218563.htm
Mohamad, Goenawan.2002. Eksotopi : tentang kekuasaan, tubuh, dan identitas. Grafiti,Jakarta
Hardiman, Fransisco Budi,(2007) Filsafat Fragmentaris, Kritik Sebagai Diskurkus: Juergen Habemas tentang demokrasi deliberative,Yogyakarta, Kanisius.
Ibid
Robet, Robertus (2006) Monograf No1: Menuju Konsepsi Kewarganegaraan Substantif Di Indonesia, Jakarta, Perhimpunan Pendidikan Demokrasi
ibid
Basuki, Bramantya. 2008. Media Parahyangan, Krisis Mahasiswa Indonesia.

Melawan Klise

•October 5, 2009 • 1 Comment

media – Sebuah penerbitan media tentulah mempunyai visi dan misi.  Entah apapun itu visi dan misi-nya, buat saya, selama beraktivitas di penerbitan mahasiswa, saya meyakini satu hal, sebuah media yang baik adalah sebuah perlawanan terhadap klise.

Upaya penerbitan kembali Buletin Kampus Tiga FISIP Unpar oleh kawan –kawan junior saya, yang saya kenal sebagai mahasiswa yang kritis, komunikatif, tanpa meninggalkan paras keceriaan di wajah mereka ini; perlu mendapat apresiasi dari khalayak FISIP Unpar khususnya dan masyarakat Unpar pada umumnya. Entah saya tidak pernah tahu secara pasti apa visi dan misi mereka menghidupkan kembali buletin ini, tentunya berbeda pada saat konteks saya dahulu.

Tulisan ini saya persembahkan untuk kawan – kawan saya selama bergiat di Kampus Tiga antara lain Prameshwara, Irwan Arfandi, Bramantya Basuki, Ashari Panji, Yuda Azhar Djauhari, Anggara Ncut, Ratu Agi, Rizki Amanda, Sabrina, dan masih banyak yang lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Di hari terbitnya media ini, saya yakin mereka yang telah pergi ini, akan bangga kepada kawan – kawan.

Herry B Priyono, salah satu pengajar dari STF Driyakara, dalam sebuah esainya yang sangat menarik, mengungkapkan bahwa penyakit klise massal menghiasi media massa kita. Wajahnya genit, isinya gossip. Priyono memberikan tiga ciri yang menandai klise massal ini

  1. Klise berisi kultus selebriti, muka – muka cantik yang hidup seperti dalam dongeng. Kita ekstase menonton atau dekat dengan mereka. Bukan karena mereka bagian hidup kita, melainkan karena kita merasa berada dalam radius kemasyuran mereka. Kita meniru penampilan dan gaya bicara mereka, gerak – gerik dan omongon mereka karena keingintahuan yang ganjil, semacam voyeurism[1].
  2. Klise berisi kultus gaya hidup. Rupanya rapi, tampilannya manis, dan harganya mahal; dipasang sebagai simbol status dan prestise. Kita bagai kawanan orang yang dengan mudah digiring untuk memburunya. Kreator iklan tahu benar, gambar barang/jasa yang dipasang bukan target buruan. Semua barang tidak mempunyai arti dalam dirinya sendiri, diburu karena memberikan status di mata orang lain; asik, gaul, trendy, indierock banget, emocore – indie-kids. Propaganda keyakinan bahwa hidup adalah turunan iklan, sebuah ilusi yang membuat  jiwa kita sakit. Biasanya kultus gaya hidup ini terbentuk dalam kombinasi dengan kultus selebriti.
  3. Klise berisi penggerusan kapasitas berpikir. Ribuan gambar, reportase, dan wawancara kedengarannya seperti informasi. Namun lebih mungkin sebagai informasi bagi voyeurisme. Ia menjadikan selebriti tempat mengaca.

Dalam iklim yang voyeuristik ini, pemikiran yang sedikit serius menjadi suatu kelangkaan. Bukan karana tidak ada orang – orang yang melakukannya, melainkan kedalaman dan keseriusan pemikiran semakin tidak laku dijual. Mengapa tidak laku dijual ? mudah, karena masyarakat tidak membutuhkannya, artinya tidak menjadi permintaan. Tetapi dari mana asal muasal kebutuhan itu ? tentu saja banyak faktor, namun apa yang disuguhkan (penawaran) ke kita, dalam bentuk wajah klise menjadi salah satu penyebabnya.

Kalau pilihan kita kebanyakan dibentuk oleh apa yang ditawarkan media massa voyeuristik tentulah majalah gaya hidup akan lebih laku bila dibandingkan jurnal analisis, majalah fashion akan lebih laku dibandingkan dengan majalah filsafat, chicklit akan lebih laku daripada karya sastrawan realis-humanis, Shireen Sungkar menjadi pembicara di kampus akan lebih didatangi oleh para mahasiswa dibandingkan analisa politik seorang pakar, di dalam hal ini laku dijual identik dengan penting bagi kita. MENYEBALKAN bila berbagai refleksi pemikiran juga harus tunduk terhadap kinerja pasar !!!!

Pemaparan diatas menunjukkan bagaimana isi media turut membentuk klise massal dalah kehidupan bermasyarakat, rupa – rupanya klise massal ini tidak hanya menyerang masyarakat awam, melainkan juga menjangkiti mahasiswa yang notabene adalah kaum terpelajar yang memang dididik untuk melakukan refleksi pemikiran. Bisa kita lihat di kampus kita tercinta ini, majalah Go Girls, Cosmopolitan, lebih banyak ditemui dibandingkan majalah berita TEMPO atau Koran KOMPAS. Bergosip mengenai selebritis kampus lebih menyenangkan dibandingkan dengan berdiskusi situasi nasional, poster-poster di papan pengumuman sepi diskusi, atau acara – acara yang mengusung nilai. Tampaknya demokratisasi informasi yang diandaikan akan membawa khalayak menuju cultural intelligence, dihadang oleh proses komersialisasi yang dibentuk oleh media massa.

Maka apa responnya dalam menghadapi dominasi klise ini ? Dibutuhkan sebuah media alternatif yang mucul sebagai respon atas dominasi klise yang telah mendikte budaya, moral, dan nilai dalam kehidupan kemahasiswaan. Media alternatif ini bisa dikatakan sebagai upaya – upaya merefleksi kembali dan upaya untuk menerobos dominasi klise ini. Media alternatif ini dapat menjadi sebuah tawaran untuk kembali berpikir mendalam dalam kehidupan kemahasiswaan. Untuk memenuhi itu, muatan dari media ini setidaknya dapat memenuhi dua usaha yang dapat dilakukan, yaitu media ini harus mampu mentranformasikan kritik menjadi diskurkus, juga harus mengajak masyarakat  mempertajam kembali kesadaran akan makna dan nilai.

Dalam sebuah masyarakat demokratis, praksis diskurkus itu akan membangun suatu sikap yang menghargai kekuatan argumentasi yang lebih baik sehingga manipulasi itu sendiri pada gilirannya dapat diperiksa secara publik. Media ini harus dapat melemparkan kritik yang dapat menggiatkan perdebatan publik, bukan tujuan semata – mata hanya untuk menunjukkan “kami yang paling benar”, melainkan menumbuhkan sikap rendah hati menghargai beragam argumentasi, yang niscaya dapat menyingkap segala macam kultus, ideologi, mitos, yang memanipulasi manusia (mahasiswa). Kritik adalah menemukan kondisi – kondisi kemungkinan suatu komunikasi yang bebas dari dominasi.

Yang kedua adalah media ini harus dapat mempertajam kesadaran makna dan nilai di balik bentuk alam semesta, perilaku manusia, dogma, juga semua sistem yang membentuk kehidpan bersama. Upaya itu dapat dilakukan oleh seni, karena seni dalam arti luas adalah berbagai siasat untuk memasuki kemungkinan – kemungkinan pemaknaan lebih dalam atas pengalaman, kesemestaan, dan kemanusiaan.  Media ini harus menyediakan ruang untuk upaya – upaya tersebut, dalam merespon klise massal ini, yang menggerus kesadaran manusia menjadi semakin dangkal.

Usaha ini menghadang klise massal ini adalah perjuangan tanpa henti. Ibarat perjuangan sisifus, sebuah mitos yang lebih dari setengah abad yang lalu dihidupkan oleh Albert Camus dari kepustakaan Yunani Kuno. Sisifus yang dikutuk dewa : ia harus mendorong batu besar ke puncak bukit, dan begitu sampai, batu itu menggelinding kembali ke bawah, dan ia harus mendorongnya lagi, dan batu itu akan jatuh lagi – dan sebuah putaran yang tidak henti – hentinya. sebuah upaya yang tidak henti-hentinya, tapi niscaya.


[1] Sebentuk keingin tahuan yang telah melorot menjadi gossip visual. Ia asal muasal dan sekaligus hasil kultus selebriti yang dirayakan secara massal.

Pengalaman Bersama Mang Jay

•September 25, 2009 • Leave a Comment

“Mau kemana, neng ?” Mang Jay bertanya kepada calon penumpang angkotnya, yang terdiri dari pasangan muda dan seorang anak.

“ke unpad” jawab si ibu sambil naik ke atas angkot trayek Dipati Ukur – Panghegar.

Mang Jay terdiam sejenak, menimbang – nimbang, lalu setelah beberapa saat dia menjawab “kayaknya nggak, mau kesana dulu”. Tiga orang calon penumpang itu kembali turun.

“kalu banyak mah diangkut” gumamnya lagi sambil menancap gas.

mang jay berharap-harap cemas

mang jay berharap-harap cemas

Mang Jay,supir angkot Dipati Ukur – Panghegar, sudah memutari jalan Ganesha dua kali. Tetapi angkotnya tak kunjung penuh penumpang, beberapa kali ia menolak penumpang karena mengincar penumpang borongan. “satu kali muter lagi saya gak dapat, ya sudah, bukan rizki saya” katanya membuat janji kepada dirinya. Mang Jay mengincar penumpang borongan karena memang sulit mendapatkan penumpang dalam masa lebaran seperti ini. Dalam keadaan normal kebanyakan penumpang angkotnya adalah mahasiswa dan anak sekolah, sedangkan dalam masa lebaran seperti ini kampus dan sekolah memang libur. “susah kalau begini, mau gak mau kita harus pinter – pinter aja” keluhnya lagi. Pendapatan harian Mang Jay memang terganggu karena lebaran, yang biasanya ia mendapat pendapatan kotor 200 – 300 ribu rupiah, sekarang jumlah tersebut tidak pasti lagi. “sewa angkot aja udah 120 ribu, belum bensin sekitar 100 ribu, orang sekarang banyak naik motor sih lebih murah dan cepat” kata mang jay sambil melihat ke kanan ke kiri. “kita puter lagi yah, semoga dapet “ katanya optimis.

suasana jalan ganesha

suasana jalan ganesha

Suasana pasar kaget langsung menyergap bila melewati Jalan Ganesha pada hari Kamis kemarin (24/09). Aneka barang dagangan terhampar di bahu jalan di depan Masjid Salman dan Kampus ITB, mulai dari makanan ringan, perkakas rumah tangga, pakaian, hingga mainan. Lautan manusia memenuhi jalan selebar 4 meter ini. Tapi magnet dari lautan manusia ini bukanlah pasar kaget, melainkan kebun binatang Bandung yang berada di Jalan Taman Sari. Tempat wisata ini memang selalu dipenuhi oleh pengunjung ketika waktu liburan datang. Sudah hukumnya pula bila ada tempat yang dipenuhi oleh manusia maka aroma keuntungan pun merebak. Maka tidak heran bila sekitar kebun binatang berubah menjadi pasar, bahkan ada yang rela datang dari jauh hanya untuk mengejar pundi uang.  “Saya datang dari Banjaran menjual ini “ ujar Itar, penjual kuda lumping. Ibarat nasi yang hanya semangkok diperebutkan, bukan hanya para pedagang saja yang berebut uang dari wisatawan, para supir angkot pun nangkring, menungggu penumpang yang akan menyarter angkotnya. Lagi – lagi nasi yang hanya cuma semangkok, maka supir angkot pun harus berebut juga, banyak terlihat angkot – angkot yang jalur trayeknya tidak melewati kebun binatang tapi ikut ngetem di situ. “yang dari kebun binatang ini kan dari mana – mana, Ujung berung, Sumedang, Cicalengka lah, makanya banyak yang kesini, ada yang sudah dicarter, ada yang dicarter Cuma perginya aja dan nyoba lagi nungguin pas pulang.  Siapa cepat dia dapat ” Mang Jay menjelaskan.

pak itar pengrajin dari banjaran

pak itar pengrajin dari banjaran

Langit semakin mendung, dan hari semakin sore. Butiran air hujan mulai turun sedikit demi sedikit. Semakin banyak wisatawan yang beranjak keluar dari kebun binatang. Beberapa  pedagang juga sudah mulai berkemas. Suara klaxon mobil semakin sering terdengar, entah itu dari angkot yang menawarkan jasa atau dari mobil pribadi yang kesal karena macet atau orang menyebrang. Mang Jay masih celingak – celinguk ke kanan dan ke kiri, mukanya semakin cemas. Tiba – tiba seorang bapak menghampiri angkotnya.

“ka kosambi ?” kata bapak itu.

“muhun, pak “ jawab mang jay.

Bapak tersebut memanggil anggota keluarganya yang lain.

“hayu, bu, neng, bah….ka kosambi nih” seru bapak itu sambil melambaikan tangannya.

“hayu, hayu, hayu….kosambi, kosambi” mang jay berteriak membantu bapak itu.

Beberapa menit kemudian, sekitar 12 orang memenuhi bagian belakan angkot, wajah Mang jay terlihat sumringah. Lalu derrrrrr……hujan pun turun dengan lebatnya.

akhirnya mang jay mendapatkan penumpang juga

akhirnya mang jay mendapatkan penumpang juga

Tentang Aneka Rupa Safari Dalam Dinding Sekretariat Media Parahyangan

•September 25, 2009 • 4 Comments

Akar pengalaman estetik adalah pengalaman sehari – hari, terutama pengalaman tentang sisi dramatik dan perubahan hidup. Rasa cemas ketika melihat tabrakan di jalanan, rasa tegang saat bertaruh besar dalam permainan sepak bola liga Indonesia, hingga keharuan bahkan kesesakan ketika seseorang mengatakan “ya, aku juga cinta kamu” atau “maaf, aku gak bisa” sebagai jawaban atas pernyaakan cinta. Itulah rasa dari pengalaman yang membuka indera manusia, yang mengiring manusia melakukan perenungan lebih mendalam tentang misteri kehidupan, yang membuatnya terjebak dalam perasaan tanpa alasan kepada langit, bintang, matahari, jangkrik, kecoa, bau tanah sehabis hujan, batu granit, awan yang mendung, atau lava panas sekalipun, yang pada akhirnya mendorongnya hingga pada pemikiran paling imajinatif.

Pengalaman – pengalaman ditangkapnya, dirayakan, dan diungkapkan juga dalam medan bentuk rupa, kata, gerak, dan nada; diukirnya pada tembok, gua, tubuh, dan dinding. Dan seni adalah segala upaya untuk memberi bentuk manusiawi pada hidup dan semesta, berbagai cara menelurkan aspirasi batin lewat penciptaan benda dan peristiwa. Seni pada akhirnya adalah soal makin tajamnya kesadaran makna dan nilai dibalik bentuk, bentuk alam semesta, bentuk tingkah laku manusia, dibalik dogma- dogma. Pada akhirnya seni juga merupakan upaya – upaya untuk memasuki kemungkinan-kemungkinan pemaknaan lebih dalam atas pengalaman, kesemestaan dan kemanusian. Dalam titik ini “keindahan” hanyalah kata lain untuk kebenaran dan kebaikan.

Lalu upaya pemaknaan apa yang tersembunyi dibalik tulisan – tulisan, gambar – gambar di dinding sekretariat media parahyangan?

dinding yang berbicara

dinding yang berbicara

Segala macam bentuk dan rupa di dinding tersebut adalah upaya pengungkapan dari persepsi, persepsi tentang kehidupan ini sesungguhnya sejauh apa yang dialami, direnungkan, dirasakan, dan diimpikan (lebenswelt, meminjam Husserl). Disini aneka rupa gambar dan tulisan tersebut bernilai karena ia mampu mengungkapkan hal – hal penting yang tidak mampu diungkapkan, melukiskan hal – hal yang dialami namun tak terpikirkan, tapi sekaligus kreatif menciptakan kembali terus menerus kemungkinan – kemungkinan baru untuk memandang dan menghayati kenyataan. Beranekaragam latar belakang dan pengalaman dari individu yang beraktivitas di media parahyangan. Dari mantan anak jalanan, mantan pengguna narkoba, mantan playboy, aktivis pro demokrasi, seniman suara kosmopolitan, pemikir radikal kerakyatan, pelamun gondrong kesepian, penjahit baju, hingga penyair kelabakan.

Maka dapat dipahami, anekarupa gambar dan tulisan yang berada di tembok tersebut merupakan hasil pengungkapan dari yang partikular (pribadi). OTENTIK, setiap individu adalah otentik, mustahil diseragamkan. Maka dari itu, saya melihat aneka rupa gambar di dinding sekretariat media parahyangan sebagai bukti fisik upaya pengungkapan dari keberagaman dunia pengalaman tiap individu yang beraktivitas dalam Media Parahyangan. Pengungkapan dari upaya untuk terus mengasah rasa kemanusiaan, dan mempertajam kesadaran akan makna dan nilai. Pada titik ini, aku bahagia bisa berkenalan dengan kalian, wahai pelukis dan penulis dinding di Media Parahyangan

sebagian tulisan dan gambar di dinding sekretariat Media Parahyangan

2

4

5

6

7

8

9

10

12

14

18

Foto Agi dan Bubble

•September 24, 2009 • 1 Comment

ramuan bubble disajikan

1

tongkat sihir diayunkan ke kanan dan ke kiri

2

pyarr.....sihir dimulai

3

balon-balon sihir

4

buih - buih  balon.....

5

Agi Dan Kemacetan Di Setiabudhi

•September 24, 2009 • 1 Comment

Mirna merengek – rengek kepada orang tuanya, sambil menunjuk ke seberang jalan. Anak perempuan berusia 10 tahun itu ingin membeli mainan bubble yang dijual di taman setiabudhi, Bandung. Orang tua Mirna tampaknya tidak menanggapi keinginan gadis cilik tersebut, karena terlalu sibuk dengan barang belanjaannya. Mirna pun mengeluarkan senjata andalan yang hampir dimiliki semua anak kecil, tangisan. Hoaaaaaaa… pyar, pecah tangis mirna. “Ya sudah sana beli, ditemenin kakak yah nyebrangnya” akhirnya ayah mirna pun turun tangan, sambil merogoh saku celana pendeknya. “Apa sih yang bagus dari gelembung busa sabun kayak gitu” ayah mirna menggerutu sambil memberikan uang kepada mirna.

mainan bubble, mainan yang akan gw beli pada saat performance art

mainan bubble, mainan yang akan gw beli pada saat performance art

Agi Ahmad Fauzi, 22 tahun, yang akrab dipanggi dengan Agi, tentunya tidak bisa mendengar gerutuan dari ayah Mirna. Meskipun ia mendengar tampaknya ia tidak peduli, baginya barang dagangannya terjual, dan target utama operasinya adalah anak-anak, baik  yang merengek karena bosan menunggu orang tuanya berbelanja atau bosan karena macet. “biasanya sih anak – anak yang bosan karena macet, juga bosan karena menunggu orang tuanya berbelanja baju” ujar Agi tentang pembelinya. Pemuda  ini tahu benar memanfaatkan rasa bosan dari anak – anak, makanya menjual bubble ia lakoni secara rutin di hari sabtu dan minggu, atau hari besar lainnya, meskipun hanya menjadi pekerjaan sampingan. “sehari – hari saya bekerja di jasa keuangan, jualan kayak gini mah cuma sabtu minggu” tuturnya sambil tersenyum kecil.

agi ahmad fauzi, punkrockish penjual bubble

agi ahmad fauzi, punkrockish penjual bubble

Agi berjualan di Taman Setiabudhi, yang terletak di  Jalan Setiabudhi depan restoran cepat saji terkemuka. Taman yang berbentuk segitiga dengan posisi memanjang dan agak menurun  ini menjadi semacam pembatas antara jalan setiabudhi dan Cipaganti. Pada saat lahan parkir Factory outlet penuh, maka sisi taman bagian jalan setiabudhi menjadi lahan parkir. Agi mendemonstrasikan bubblenya di bagian atas taman setiabudhi pada saat kemacetan berlangsung, berdiri dan melambaikan tongkatnya ke kanan dan ke kiri bagaikan tukang sihir, lalu ibarat sihir…..wuzzz….puluhan balon busa tercipta, mencoba memikat target pembelinya, yaitu anak-anak. Tampaknya kemacetan baik pada saat lebaran ataupun liburan lainnya berdampak positif buat Agi. Apalagi pada saat lebaran seperti ini, dimana warga dari kota lain tumpah ruah di kota kembang ini. Agi menuturkan bahwa pada saat-saat itulah dagangannya bisa laku keras. “Biasanya Cuma laku sekitar 10 sampai 20 per hari (sabtu /minggu), hari selasa kemarin (22/09) laku sampai 40, edan lah.”

Mainan bubble yang ia jual adalah cairan berbusa yang dikemas di dalam botol bekas air mineral, dilengkapi dengan tongkat pendek khusus untuk memainkannya, begitu tongkat tersebut dicelupkan ke dalam cairan tersebut, dan dilambaikan ke kanan,ke kiri, atas, bawah maka puluhan balon pun terbentuk. Bahan untuk membuat cairan ini tentunya bukan dari busa sabun biasa, menurutnya ini dibuat dari sejenis daun. Setiap paketnya (cairan busa + tongkat) dilabeli dengan harga 15 ribu rupiah untuk ukuran kecil, yang besar dengan harga 25 ribu rupiah. “Saya gak tahu gimana buatnya juga, ini mah ngambil dari orang” katanya.

Agi memang memanfaatkan momen lebaran sebagai peluang mendapatkan uang. Dalam pertempuran hiu – hiu Factory Outlet di Bandung seperti yang terletak di Jalan Setiabudhi, Riau, dan Dago yang menawarkan paket-paket khusus Lebaran. Agi ibarat ikan kecil yang meraup sisa makanan dari para konsumen Factory Outlet di Setiabudhi. “Saya sampai rela gak pulang ke Tasik, karena pengen cari uang, pengen mandiri istilahnya.Lebaran gini, keuntungan dari jualan ini melebihi gaji saya di perusahaan. Hehehehe.” ujar Agi menutup obrolan.

Pak Aceng Si Pendekar Jala dari Sungai Citarum

•September 23, 2009 • Leave a Comment

IMG_0095

IMG_0106

IMG_0115

IMG_0116

Kedua Pamanku, Iwan Dan Engkang

•September 23, 2009 • Leave a Comment

Mang Iwan cukup dikenal di Kecamatan Ciranjang, Kab Cianjur. Wajahnya mirip orang tionghoa, dengan kumis seperti babahliong, dan berperawakan gempal, cocoklah ia menjadi pedagang dan pendekar di Cianjur. Sayangnya ia bukan pedagang maupun pendekar. Mang iwan hanyalah supir angkot. Mang iwan adalah saudara ibuku. Sehari – hari mang iwan menarik angkot di Ciranjang, angkotnya berwarna hijau, selain itu juga angkotnya tidak lagi “standar” alias sudah di modifikasi. “ini sudah diturunin” ujarnya, supaya enak dibawa lari, begitu dia mengemukakan alasannya. Rupanya mang iwan suka balapan.

stiker di dalam angkot mang iwan, asikk deh

stiker di dalam angkot mang iwan, asikk deh

Mang iwan bersama angkotnya memang ikut masuk ke klub angkot yang suka balapan, klub tersebut namanya ngerayap. Ngerayap sangat terkenal di Cianjur. “Biasanya lebaran gini, kita sok main ke pelabuhan ratu, rame-rame” kata mang iwan lagi. Tampaknya ia bangga akan angkotnya dan klubnya.

Aku naik angkot mang iwan pada saat menuju Kampung Genteng, Desa Cikondang, Kecamatan Bojong Picung, Cianjur. Jaraknya sekitar 15 – 20 km dari Pasar Ciranjang atau sekitar 20 – 25 km dari Haurwangi, dengan kondisi jalan yang berlubang. Aku duduk di depan, bersama Mang iwan. Dalam perjalanan, banyak hal yang kami obrolkan, mulai dari pertanian, irigasi, hingga pertenakan ikan. Bagiku yang menghabiskan waktu di kota besar, kupingku tidak akrab dengan hal seperti itu..

pasar ciranjang dari dalam angkot

pasar ciranjang dari dalam angkot

“Teh sri (ibuku) dulu dibesarinnya di Cikondang sampai umur 12 tahun. Makanya dhito harus sering main kesini, nanti diajak jalan-jalan ke Cianjur selatan, disana mah segala ada, mulai dari kebaikan hingga kejahatan” ujarnya lagi.

“wah boleh tuh mang, naik angkot ini yah, kita ngebut” kataku.

“mangga” jawabnya sambil tertawa terkekeh.”

Sampai di kampung Genteng, aku berkunjung ke rumah uwak aceng. Di sana telah menunggu uwak engkang dan uwa enung (istri uwak aceng). “eh dhito, apa kabar, nah gitu dong main pas lebaran” kata uwak aceng. Lagi-lagi aku hanya menggaruk kepala. Kopi hitam disajikan, aku duduk bersama uwak engkang dan mang iwan, menyeruput kopi dilanjutkan dengan merokok di halaman depan. Uwak aceng tidak ikut duduk karena ada tamu yang lain, sedangkan uwak enung sibuk dengan menyuguhkan camilan buat para tamu. Rumah uwak aceng tergolong nyaman, bila kita melihat ke depan maka terlihat hamparan sawah yang telah menguning, beberapa hari lagi akan siap di panen. Pemandangan yang sangat berbeda dengan Haurwangi yang kekeringan.

rumah di kampung genteng

rumah di kampung genteng

Uwak engkang berumur sekitar 44 tahun, wajahnya telah rusak akibat terkena mercon semasa kecilnya, badannya tegap, setahuku dia adalah orang yang cukup kuat. Seperti mang iwan, uwak engkang merupakan saudara ibuku. Aku menanyakan  mengapa di Bojong picung tidak kekeringan kepada uwak engkang yang sehari-hari bekerja sebagai petani penggarap, ia mengatakan bahwa irigasi air dari Cisulu tidak sampai ke Haurwangi. Sedangkan desa Cikondang merupakan desa pertama yang dilalui oleh saluran irigasi, makanya panen bisa tiga kali dalam setahun, makanya harga tanah disini lebih mahal, ujarnya. Meskipun panen bisa sampai tiga kali setahun tetapi kebanyakan penduduk di desa Cikondang adalah buruh tani, mereka yang dibayar 15 ribu hingga 20 ribu per hari.

“sawahnya mah kebanyakan punya orang jakarta, pokonya orang kota” kata uwak engkang lagi.

Aku diam saja, memandang hamparan sawah, saat itu tiba-tiba mang iwan berseloroh “kalau dhito punya masalah spiritual, atau hati merasa tidak enak, sulit keuangan, dan jodoh, bisa datang ke ciember. Itu masih saudara ibu dhito juga.”  Aku terkejut mendengarnya, ya ampun pikirku, beragam juga mata pencaharian saudara-saudaraku ini.

dua anak menghabiskan sore dengan mandi di empang

dua anak menghabiskan sore dengan mandi di empang

Beberapa saat kemudian aku memutuskan untuk mengelilingi kampung itu. Aku melihat berhektar sawah yang sebentar lagi panen, juga beberapa penduduk desa yang sedang duduk-duduk diluar. Uniknya sebagian besar rumah penduduk disini masih dibangun dari anyaman kayu, dan menggunakan panggung yang pendek. Hal aneh lainnya adalah banyaknya kuburan yang terletak di depan atau di belakang rumah, dan rata-rata kuburannya kecil. Aku bertanya dalam hati apakah ini kuburan bayi, sehingga dikubur begitu saja di halaman. Aku membayangkan bahwa dari kuburan tersebut muncul zombie-zombie bayi..hihihiiiiiii, membayangkannya saja membuat aku bergidik. Aku segera meninggalkan tempat itu.

kuburan di depan rumah, hiiiiiiii

kuburan di depan rumah, hiiiiiiii

Hari menjelang sore tetapi udara masih panas, burung – burung mulai berkicau, anak-anak kampung mulai mandi di empang. Aku melihat jam tanganku, sudah pukul 15.30. saatnya aku kembali ke bandung pikirku. Liburan yang lumayan menyenangkan, pikirku. Aku pamit kepada tuan rumah, dan tuan rumah menyuruh aku membawa banyak oleh-oleh (dari pisang hingga ayam goreng); aku menolaknya dengan halus. Repot bawanya

Sebelum pulang Uwak Engkang berkata kepadaku “nanti uwak mau mencalonkan jadi Kades, bantuain uwak yah, kamu kan pinter kuliah di universitas.”

Aku hanya tertawa dan menjawab “emang kapan, wak?.”

“Tahun 2013” katanya lagi

“Insya Allah, wak” kataku sambil berpikir, kira-kira aku berada dimana tahun 2013. aku pulang dengan bahagia karena telah bersilaturahmi dengan saudara-saudaraku.

Lebaran Ala Pak Aceng

•September 23, 2009 • Leave a Comment

Kecamatan Haurwangi terletak di pinggir sungai Citarum. Bila kita menuju Cianjur dari Bandung, kita akan menghadapi dua pilihan jalan menyebrang citarum, melewati jembatan tol atau jembatan lama. Bila kita tidak melintasi tol jembatan (jembatan baru) Citarum, melainkan jembatan lama, pasti kita melewati kecamatan ini. Bila melihat sekilas pemandangan di kecamatan ini, hampir bisa dipastikan mata pencarian utama penduduknya adalah petani. Aku melihat sawah yang sangat luas di kecamatan ini.

IMG_0054

Kemarau belum usai. Belasan hektar sawah telah beberapa bulan kerontang. Sawah berubah menjadi menjadi padang kering bewarna oranye. Segala jenis rumput mati. Yang menjadi bercak – bercak hijau di sana-sini adalah kerokot, serta sajian alam seperti belalang. Tumbuhan jenis kaktus ini justru hanya muncul di sawah sewaktu kemarau berjaya. Angin bertiup, kering. Matahari kemarau menyengat, sampai sungai citarum pun susut hingga tiga meter.

Musim kemarau ini, air menjadi sulit, menyebabkan sawah menjadi kering kerontang. Hanya belalang dan jangkrik yang terlihat ketika aku melintasi sawah di haurwangi. Air irigasi tidak sampai kesini, seharusnya Haurwangi mendapat jatah air dari bendungan Cisulu yang jauhnya sekitar 20 km ke arah barat. Tapi karena air irigasi yang harus dibagi ke beberapa kecamatan, dan haurwangi merupakan kecamatan paling terakhir yang dibagi, makanya wajar bila air tidak sampai ke Haurwangi. Keadaan ini ditambah dengan kemarau sehingga jumlah volume air turun, dan banyak penduduk di kecamatan tetangga jauh Haurwangi membuka pertenakan ikan, menambah seretnya air di kecamatan Haurwangi. Tidak heran bila di kecamatan ini, banyak penduduknya memilih menjadi petani palawija dibandingkan dengan petani padi. Menjadi petani padi hanya bisa panen paling banyak adalah dua kali dalam setahun, sedangkan palawija bisa sampai tiga kali. Meskipun begitu, tampaknya tidak semua penduduk dapat menikmati panen dari hasil tanahnya, karena kebanyakan penduduk di situ bekerja sebagai di lahan milik orang lain.

pa aceng mirip pendekar jala sakti

pa aceng mirip pendekar jala sakti

Pak Aceng, berumur 55 tahun, salah satu penduduk haurwangi, sedang berada di rakitnya yang mengapung di sungai Citarum. Aceng mengenakan topi seperti orang belanda, kaos, dan celana pendek. Kulitnya coklat kemerah-merahan karena matahari membakarnya, kumisnya yang putih adalah satu-satunya tanda bahwa dia memang berumur 55 tahun. Badannya masih tegap, dan berotot, khas penduduk desa yang menjadi petani dan sering mencangkul Pak Aceng bercerita bahwa mendapatkan air di Haurwangi itu sulit, maka dari itu penduduk disini lebih memilih bertani palawija karena tidak membutuhkan banyaknya pengairan. Pak Aceng sendiri merupakan petani palawija, yang menggantungkan sebagian besar hidupnya dan keluarganya pada tanahnya yang hanya sepetak. Selain dari hasil palawija, Pak aceng juga menjala ikan di Citarum untuk memenuhi kebutuhan dapurnya. “Sungai ini banyak ikannya, ada ikan jambal hingga ikan mas, sehari bisa dapet tujuh kilo” kata Pak Aceng menerangkan kepadaku diatas rakitnya. Ucapan itu sangat berbeda dengan hasil yang Pak aceng dapat siang itu, karena aku melihat hanya tidak satu ekor pun yang didapat. Rakit yang kita naiki mulai bergoyang ke kanan dan ke kiri, sungai citarum yang tenang, beriak karenanya, setahuku sungai ini cukup dalam. Aku agak takut mengingat aku tidak bisa berenang, “bapak bisa berenang?” kataku kepada pak Aceng. Pak Aceng tertawa lebar sambil menggumamkan kata tidak. ”waduh bapak gimana sih, nanti kalau kecebur siapa yang nolong” kataku dalam hati. “wah kok bapak berani yah?” kataku sambil nyengir ketakutan. Hanya menyengir yang aku bisa. “udah biasa, lagipula kalau tidak begini nanti yang di rumah gimana” katanya lagi. Lebaran ini tampaknya dilewati Pak aceng seperti hari biasanya, tidak istimewa. “lebaran ya kayak gini, paling sungai citarum menjadi rame, banyak orang dari bandung dan kota yang mancing di sini. Lagi pula keluarga semuanya disini jadi mau kemana lagi” ujar pak aceng begitu ditanya kenapa dia tidak mudik. Aku tersenyum mendengarnya. Hari semakin siang, matahari semakin menyengat wajahku, bau air sungai yang merebak di hidungku, menandakan bahwa sungai ini tidak sepenuhnya bersih. aku melihat ke pinggir sungai, melihat keluarga pak aceng yang terdiri dari istri, dan kelima anaknya. Mereka duduk di bale dari rotan, sambil melihat Pak Aceng menjala ikan. “bah, ka dieu gera. Tuang heula” Bu Aceng memanggil. Aku memutuskan untuk naik ke daratan dan melanjutkan perjalananku ke tempat lain. Juga karena tidak bisa menahan takutku di atas rakit.

Lebaran bagi Pak aceng saat ini mungkin bukan duduk berkumpul dan makan ketupat di rumah, bukan belanja di Factory Outlet memburu diskon, bukan mengunjungi pusat perbelanjaan mengharapkan paket-paket lebaran. Aku merasa senang bisa lebaran naik rakit di sungai citarum, ditemani matahari kemarau yang panas, serta angin tenggara yang kering, karena bagiku pengalaman baru. Terimakasih pak aceng.