Sebenarnya aku agak malas untuk melanjutkan tulisan mengenai diskusi empire di Media Parahyangan, pertama karena aku tidak begitu menguasai literature mengenai Empire, kedua adalah karena aku masih mempunyai tema-tema menarik lainnya untuk dieksplorasi. Tetapi tidak baik bila tidak menyelesaikan sesuatu, apalagi kalau sudah berjanji. Juga karena beberapa teman (Egi dan Ilham) menagihku untuk melanjutkan tulisan ini, juga penjelasan tentang beberapa konsep mengenai empire (karena belum begitu jelas), production of subjectivity, immaterial, multitude, dan lain-lain.
Nightmare…aku harus kembali membaca, maka yang kulakukan untuk merampungkan tulisan ini adalah mendownload literature dari internet mengenai konsep-konsep tersebut dan menonton kembali trilogy film The Matrix untuk membantuku memahami konsep tersebut. Tulisan ini pasti lah jauh dari harapan, dan aku berharap teman-teman tetap kritis, dan menggali lebih dalam lagi bila ingin mengetahui tentang Empire, karena tulisan ini belum tentu tepat. Selamat membaca
Aku membayangkan Empire, aku membayangkan bagaimana Empire menguasai seluruh kehidupan kita, subjektivitas kita, sehingga “rasa bebas dan setara” yang kurasakan hanyalah bentukan dari Empire, agar aku tidak melakukan exodus.
Aku “berkenalan” dengan Empire setelah temanku, bram, filsuf radikal, menulis skripsi mengambil tema tersebut. Bram yang kemana – mana selalu membawa buku Empire dan Multitude, karya Antonio Negri itu, tampak tekun mempelajari setiap konsep yang dimuntahkan Antonio Negri. Lalu beberapa minggu ke belakang, media parahyangan mengadakan diskusi mengenai empire, dengan pembicara bram. Aku mulai mengenal empire secara luas, tetapi tidak mendalam. Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan pertama mengenai diskusi tersebut.
Empire
Empire dalam pemahaman Antonio Negri adalah pengertian secara konotatif dan konseptual. Yang dimaksud dengan Empire adalah bentuk kedaulatan global baru yang terdiri dari organisme (mahluk hidup?) nasional maupun supranasional yang bersatu menjadi subjek politik dalam tatanan global. Namun pengambilan istilah di sini bukan berdasarkan pada sebuah kerajaan (raja yang berkuasa, ratu, dan lain-lain) akan tetapi lebih pada sebuah konsep, konsep yang ingin digarisbawahi di sini adalah kekaisaran tidak mempunyai batas. Ada beberapa tanda dari empire, satu timeless, spaceless/borderless. Perumpamaan dari timeless adalah pada saat zaman Holy Roman Empire, Paus diwahyukan kekuasaan oleh tuhan, sebagai wakilnya di dunia. Maka ada anggapan bahwa kekuasaannya itu abadi, karena paus mendapat kuasa langsung dari tuhan. Tidak ada waktu yang membatasi kekuasaannya. Spaceless/borderless adalah tidak ada ruang yang membatasi paus ini untuk menguasai segalanya, karena ada anggapan tuhan itu pemilik/raja dunia semesta, pemilik segalanya,sehingga segalanya milik paus karena dialah yang diwahyukan tuhan untuk mengelola kekuasaannya di dunia. Semuanya ada di dalam empire, tidak ada yang diluar, dan empire terus berlangsung ,menunda waktu, tidak ada perubahan. Lalu apa bentuk empire ini ? Empire (konsep) adalah lebih kepada penguasaan atas seluruh sendi – sendi umat manusia, dan penguasaan tersebut sifatnya eksploitatif karena hirarkis.
Production of Subjectivity
Bagaimana empire bekerja mengeksploitasi kita? Secara tidak sadar kita dibuat “its ok” bahkan mendukung kepada keadaan yang sekarang, secara tidak sadar empire membuat kita melanggengkan kekuasaannya. Pernahkah kita bertanya ada pola pikir masuk sekolah – kuliah, lalu bekerja? Darimana datangnya pola pikir bahwa kita harus memakai ponsel, sepatu converse, dan lain –lain ? Ada suatu proses yang dinamakan production of subjectivity yang dilakukan oleh empire, dan ini membuat diri kita tidak ditentukan lagi oleh diri kita, karena secara tidak sadar kita ditentukan oleh empire. Apa itu production of subjectivity ? untuk itu kita harus melompat dan menilik ke belakang dahulu.
Pra empire, pola produksi yang dipakai adalah fordisme. Fordisme memiliki beberapa ciri, antara lain : melibatkan produksi produk secara homogen dan massal,digunakannya teknologi yang tidak fleksibel, adanya rutinitas kerja standar, homogenisasi kerja, pertumbuhan pasar bagi barang produksi massal yang menimbulkan homogenisasi pola konsumsi. Karakteristik utama dari pekerja pada era fordism adalah waktu kerja yang jelas tiap harinya, tempat bekerja yang tetap, jenis pekerjaan atau tugas yang diberikan sifatnya monoton, serta pekerjaan yang diampunya cenderung stabil dan berjangka waktu panjang.Jadi sifatnya memproduksi material / berbentuk sesuatu yang nyata. Maka kelas pekerja pada masa tersebut disebut material labour.
Bagaimana dengan kondisi kontemporer (masa empire)? Kita dihadapkan kepada pola produksi yang ditandai dua hal, pasca fordisme dan imaterial. Pasca fordisme tentunya berlawanan dengan fordisme, Pada era pasca fordism terdapat tiga jenis karakteristik utama yaitu: fleksibilitas, karena sekarang pekerja tidak hanya diharuskan melakukan satu jenis pekerjaan saja, namun diharapkan bisa melakukan berbagaimacam pekerjaan yang berbeda. Mobile, karena biasanya pekerja tidak hanya bekerja di satu waktu dan tempat yang sama dan precarious karena tidak ada kontrak pekerjaan yang stabil, atau long term employment. Yang dihasilkan oleh pola produksi pasca fordisme ini adalah produk-produk immaterial seperti ilmu pengetahuan, informasi, komunikasi, hubungan sosial, atau afeksi rasa. Dan saat ini munculah “kelas pekerja” baru yang disebut Imaterial labor. Imaterial labor tidak hanya memproduksi barang atau jasa material namun juga hubungan maupun kehidupan sosial itu sendiri. Jadi ciri utama dari immaterial labor adalah: memproduksi komunikasi, hubungan sosial, dan kerja sama.
Dapat dilihat, di era produksi kontemporer yang bercirikan immaterial yang berlandaskan pada komunikasi dan kerjasama dikatakan sebagai production of subjectivity. Hal tersebut telah menjadi bagian dari konstruksi kehidupan sosial kita semua. Dengan kata lain, subjektifitas diproduksi melalui kerjasama dan komunikasi dan selanjutnya akan memproduksi subjektifitas yang lain, melalui kerjasama dan komunikasi lagi memproduksi subjektifitas baru dan seterusnya. Masalahnya adalah yang imaterial ini sudah menghegemoni dalam hidup kita sehari – hari. Untuk memudahkan membayangkannya, contohnya ponsel, pada saat zaman dulu kakek-nenek kita tidak akan ada masalah bila tidak membawa ponsel. Tetapi saat ini/zaman ini, bila kita tidak membawa ponsel akan sangat sulit. Lalu rasanya tidak masalah bila kita kuliah tidak memakai sepatu converse, tetapi bila kita tidak memakainya seperti ada yang “kurang” atau kurang bergengsi bila anak kuliahan tidak memakai sepatu tersebut. Ada apa dengan diri kita bila kita tidak memakai benda-benda tersebut? Ada yang kurang bila kita tidak memakai benda-benda tersebut? Itulah sesuatu yang imaterial yang begitu menguasai sendi – sendi kehidupan kita sehari – hari.
Kita bisa mengambil analogi dari film the matrix bila ingin lebih jauh memahami tentang cara kerja empire ini, Morpheus menerangkan tentang The Matrix kepada Neo pada saat pertama kali
the matrix is everywhere, all around of us, even now, in this very room. You can see it when you look out the window or you turn on your television. Ypu can feel it when you go to work, when you go to church, when you pay your taxes. It is the world that have been pulled over your eyes to blind you from the truth. you are a slave, neo. Like everyone else, you were born into bondage, born into a prison that you cannot taste or touch. Prison for your mind. Unfortunetly no one can be told, what the matrix is. You have to see it by yourself.. What is the matrix? Control, the matrix is computergenerated dream world built to keep us under control in order to change a human being into this (Morpheus menunjukkan sebuah baterai kepada neo).
Dalam The Matrix, subjektivitas kita diruntuhkan oleh peran bahasa dan sistem tanda dan makna (semua itu diproduksi oleh the matrix). Seperti yang diungkapkan oleh Louis Althusser mengenai sistem konstruksi dibentuknya diri oleh bangunan ideologi sebagai sistem makna. Pemberi dan penentu makna yang mengajari kita adalah kelas penguasa yang memiliki kekuasaan hegemonik (mempengaruhi) tafsir makna dan tafsir hubungan antar anggota. Tafsir tersebut disemburkan melalui banyak hal, salah satunya media massa, saluran penerangan, sehingga menjadi kesadaran orang banyak. Kesadaran tersebut adalah kesadarang palsu hasil dari pemilik tafsir dan hegemoni arti. Kesadaran ini dilanggengkan terus menerus. Semua itulah yang membentuk kita hari ini, dalam dunia penghayatan kita saat ini.
Lalu apa yang bisa kita lakukan ketika kita hidup dalam the matrix (empire), apakah kita tidak mungkin untuk keluar dari sana ?
Dengan pola produksi immaterial maka “alat produksi” yang digunakan adalah komunikasi dan kerjasama, outputnya adalah berupa hubungan sosial atau kehidupan sosial itu sendiri. Kehidupan sosial hasil produksi sudah terserap dalam logika modal. hubungan sosial tersebut menghasilkan subjektivitas, lalu menghasilkan hubungan sosial yang lain, lalu menghasilkan subjektifitas yang baru dan seterusnya (subjektifitas – hubungan social –subjektivitas – hubungan social; ibarat kehidupan dalam the matrix). harapan untuk bisa keluar dari pola eksploitatif ini adalah dengan melakukan exodus. Alasan kenapa harus melakuakan exodus adalah karena pola produksi ada saat ini sangatlah eksploitatif. Dan karena ada tujuan untuk menghasilkan profit sebanyak-banyaknya dari production of subjectivity, maka sebisa mungkin subjektifitas yang dibentuk oleh Empire sesuai dengan keinginannya. Juga karena empire yang bersifat hirarkis sehingga dapat dijamin tidak ada kesetaraan di dalam empire. Maka setelah tidak ada kebebasan (karena subjektivitas kita telah dibentuk, maka tindakan pun telah terbentuk; ketiadaan free-will) dan kesetaraan (karena sifat empire yang hirarkis : lihat part 1 dari diskusi empire), maka kebebasan dan kesetaraan menjadi suatu hal yang menjadi alasan untuk melakukan exodus. Ibarat. Seperti yang dilakukan oleh Neo ketika dia memilih menelan pil merah.
Empire hadir di kehidupan kita sehari-hari, empire dengan cara bekerja yang begitu canggih dan rumit, menguasai kita. Menguasai otonomi kita sebagai manusia, Bila menilik film The Matrix, seperti yang dikatakan oleh Morpheus kepada Neo pada saat menjelaskan tentang manusia
the human body generated more bioelectricity then a 120 volt battery, and over 25.000 btu of body heat. Combined of form of fusion, the machines had found the all of energy they would ever need. There are fields, neo. Endless field.where human beings are no longer born, we are grown
Masih mungkinkah kita untuk keluar dari empire dengan melakukan exodus ?
Penutup
Agen smith tampak sudah yakin dengan kemenangannya, dengan kemanangannya maka zion akan runtuh, hancur, dan umat manusia akan lenyap. Di hadapannya, neo mencoba untuk berdiri, perlahan, tubuhnya sudah lemah, sakit, dan kekalahan di depan mata.
“why Mr Anderson ? Why, why, why ?” kata agen smiths
Keheranan agen smith tidak dibuat – buat, mungkin dia sudah terlalu lelah untuk berpikir mencoba memahami apa yang dilakukan oleh neo. Sedangkan neo, hanya diam saja, masih dalam taraf menstabilakan dirinya setelah menjadi bulan – bulanan agen smith dalam pertarungan akhir tersebut.
“why do you do it?” agen smith bertanya kembali, sambil menggeleng – geleng kesal, dan tidak habis pikir, dia yakin akan menang.
“Why get up? Why keep fighting ? do you believe fighting for something ? for more than your survival? Can you tell me what it is? Do you even know? Is it freedom or truth? Perhaps peace or could be for love? Illusion, mr Anderson. Vagaries of perception. Temporary construct of a feeble human intellect trying desperately to justify an existence that is without meaning of purpose! And all of them as artificial as the matrix itself…although only a human mind could invent something as inspidid as love. You must be able to see it mr Anderson. You must know it by now. You can’t win, its pointless to keep fighting. Why, mr Anderson, why ? why do you persist?”
Neo, akhirnya berhasil berdiri, langkahnya masih terhuyung – huyung, mungkin pada saat berusaha berdiri, dia mengingat semuanya. Dia ingat, dia menelan pil merah sehingga dia keluar dari the matrix, dia ingat ketika bertemu dengan oracle untuk memahami “bagian”-nya. Dia ingat trinity, cintanya, yang membawanya ke akhir, juga telah menjemput akhirnya. Yah..dia ingat semuanya, dan kini dia berdiri sendirian di akhir, menghadapi agen smith dalam pertarungan terakhirnya, yang beberapa saat yang lalu memberondong dengan pertanyaan – pertanyaan selain pukulannya. Mengapa ? dalam sakitnya, neo mempunyai jawaban, jawaban yang mungkin baru diketahuinya, di akhir.
“Because I choose to”

pyramid of global institution



































komentar